Skip to main content

tentang kami

Balai Budaya Jakarta adalah rumah seni rumah kita rumah kebudayaan. Tempat untuk memamerkan kebebasan seni rupa, musik, sastra, dan seni pertunjukan. Selain itu juga balai budaja tempat untuk membangun kreatifitas persatuan para seniman. Balai Budaja kita harapkan akan mempertemukan karya seni Indonesia atau Dunia. Dari situ balai budaja terbangun sebagai tempat atau wadah untuk membangun kegembiraan pertemuan masyarakat pencinta seni.

Dalam sejarahnya balai budaja diresmikan oleh bapak muhammad Yamin selaku menteri pendidikan dan kebudayaan pada 21 April 1954 dibawah naungan BMKN (Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional). Perlu diketahui bahwa bung Karno pernah hadir dan membuka pameran batik Indonesia dan Pameran kaligrafi dari prancis.dan masih banyak lagi tokoh bangsa yang pernah hadir pada pergelaran-pergelaran seni di balai budaja seperti Affandi, S. Soedjoyono, Abbas Ali Basyah, Nasar, Rusli, Dll.

Dan saat ini balai budaja dikelola oleh Yayasan Balai Budaja yg beralamat di Jl. Gereja Theresia No. 47, 7/4, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Setelah pasca reformasi balai budaya kembali berfokus pada tugasnya untuk membangun suasana berkesenian di Jakarta dan indonesia.

Tentu saja masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan masa depan balai budaya untuk menghidupkan kebudayaan Indonesia.

Balai Budaja

Pusat Kegiatan Seni: 
Menjadi lokasi pementasan tari, musik, teater, dan pameran karya seni.

Sarana Edukasi: 
Tempat pelatihan dan lokakarya bagi masyarakat untuk mempelajari budaya dan keterampilan seni tertentu.

Ruang Komunitas:
Ruang berkumpul bagi budayawan, seniman, dan warga untuk berkreasi dan bertukar pikiran.

acara

10

Oktober

2026

harmony in diversity by iwpi

Pameran persembahan Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) dalam memperingati 41 tahun perjalanan IWPI yang teus berkarya, berproses, dan turut memperkaya kehidupan seni rupa Indonesia.


Tempat: Jl. Gereja theresia No. 47, 7/4, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat DKI Jakarta, Indonesia 10350
Waktu: 9am

Harmony in diversity

10-19 Oktober | 9am-selesai

Harmony in Diversity merupakan pameran persembahan Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) dalam memperingati 41 tahun perjalanan IWPI yang teus berkarya, berproses, dan turut memperkaya kehidupan seni rupa Indonesia.


Pameran ini hadir sebagai sebuah pengingat bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan yang dapat menyatukan. Beragam latar belakang, pengalaman, pemikiran, dan bahasa visual para perupa dapat hadir berdampingan dalam satu ruang sebagai harmoni yang indah, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap bersatu.


Lebih dari sekadar perayaan seni, pameran yang digelar pada tanggal 10-17 Oktober 2026 ini juga menjadi wujud kepedulian dan berbagi. Hasil dari pameran ini didonasikan kepada Yayasan Pita Kuning, untuk mendukung anak-anak penderita kanker dari keluarga prasejahtera.


Semoga pameran ini tidak hanya menghadirkan pengalaman estetik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa seni dapat menjadi jembatan untuk merayakan keberagaman, mempererat persatuan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Selamat menikmati karya dan merayakan harmoni dalam keberagaman.


Salam hangat,


Cecilia D. Kristiari

Ketua Umum Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI)

“KARTUN TAMBA GETUN

21-29 September | 9am - Selesai

“KARTUN TAMBA GETUN”

Retrospeksi 50 Tahun Mengartun — NON-O S. PURWONO

“Tertawa sebentar. Berpikirnya lama.”

 

KARTUN TAMBA GETUN merupakan sebuah retrospeksi perjalanan kreatif NON-O S PURWONO selama kurang lebih lima dekade berkarya sebagai kartunis. Pameran ini bukan sekadar perayaan usia berkarya, tetapi juga sebuah upaya untuk melihat kembali perjalanan kartun Indonesia melalui sudut pandang yang menjadikan gambar, humor, dan kritik sosial sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam bahasa Jawa, tamba getun artiya  “obat kecewa” atau sesuatu yang membantu manusia belajar dari kekeliruan. Semangat tersebut menjadi relevan dengan karakter kartun Non-O: mengajak orang tertawa, tetapi sekaligus mengingatkan. Di balik humor yang ringan sering terdapat persoalan yang serius—tentang kehidupan sosial, politik, perilaku manusia, ketidakadilan, korupsi, birokrasi, pendidikan, lingkungan, hingga berbagai keganjilan yang hadir dalam kehidupan masyarakat.

Bagi Non-O, kartun bukan sekadar gambar lucu atau lelucon visual. Kartun adalah cara berpikir. Ia bekerja melalui pengamatan, kepekaan, logika, ironi, imajinasi, dan keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa. Karena itu, sebuah kartun yang baik tidak selalu harus membuat orang tertawa terbahak-bahak. Kadang cukup membuat seseorang tersenyum, kemudian berhenti sejenak dan berkata dalam hati, “Eh, iya juga, ya…”

Retrospeksi ini menampilkan sekitar 200 - 300 karya kartun, yang merekam perjalanan panjang seorang kartunis dalam mengamati perubahan zaman dan perilaku manusia. Dari satu karya ke karya lainnya dapat terlihat bagaimana persoalan sosial terus berganti bentuk, sementara sifat dasar manusia—keserakahan, kepedulian, kelucuan, kebodohan, kecerdikan, empati, dan harapan—tetap menjadi bahan yang tidak pernah habis bagi seorang kartunis.



NON-O S. PURWONO: KARTUNIS DAN PENGAMAT KEHIDUPAN

Non-O S. Purwono lahir di Bandung, 27 Mei 1954. Ia menempuh pendidikan di STSRI “ASRI” Yogyakarta, jurusan Seni Reklame/Komunikasi Visual, dan mulai menekuni dunia kartun secara serius sejak muda. Perjalanan profesionalnya kemudian berkembang melalui dunia media massa, antara lain sebagai kartunis yang berkarya untuk surat kabar dan media seperti Kompas dan Sinar Harapan.

Pengalaman panjang di lingkungan media membentuk cara pandangnya terhadap kartun. Baginya, kartunis tidak cukup hanya pandai menggambar. Ia juga harus mampu membaca situasi, memahami persoalan, memilih sudut pandang, dan menyampaikan gagasan secara efektif. Sebuah kartun harus memiliki alasan mengapa ia dibuat—bukan sekadar karena lucu.

Pengalaman berinteraksi dengan dunia redaksi juga membuat Non-O memahami bahwa sebuah gagasan visual harus memiliki kejelasan pesan, ketepatan konteks, dan tanggung jawab editorial. Kritik boleh tajam, tetapi tidak harus kasar. Humor boleh nakal, tetapi tetap dapat menjaga martabat manusia. Di sinilah karakter kartun Non-O menemukan bentuknya: sederhana, komunikatif, kadang “koplak”, tetapi menyimpan kegelisahan dan pemikiran di balik kelucuannya.

Dalam perjalanan kreatifnya, Non-O banyak dipengaruhi oleh para penulis dan kartunis yang memiliki kekuatan humor sekaligus kritik sosial, antara lain Mark Twain, M.A.W. Brouwer, Mahbub Junaidi, Gunawan Mohammad, M.H. Ainun Najib, Simon Carmiggelt, Annie M.G. Schmidt, Arnon Grunberg, serta tradisi humor visual Indonesia yang berkembang melalui para kartunis senior.



KARTUN SEBAGAI “TAMBA GETUN”

Lima puluh tahun mengartun tentu bukan perjalanan yang selalu mulus. Zaman berubah, teknologi berubah, media berubah, dan selera masyarakat pun terus bergerak. Namun satu hal tetap sama: manusia selalu mempunyai masalah dan selalu membutuhkan cara untuk melihat masalah itu dari jarak tertentu.

Kartun menawarkan jarak tersebut. “Kartun itu bukan sekadar gambar lucu-lucuan tapi lebih dalam dari itu,” ujar Non-O, “

Dengan humor, persoalan yang berat dapat dilihat tanpa harus kehilangan daya kritisnya. Dengan ironi, sesuatu yang tampak normal dapat dipertanyakan kembali. Dengan satu gambar dan beberapa kata, kartun kadang mampu mengatakan sesuatu yang membutuhkan berlembar-lembar tulisan.

Karena itu, KARTUN TAMBA GETUN tidak dimaksudkan sebagai museum nostalgia seorang kartunis semata. Pameran ini merupakan catatan perjalanan sekaligus ajakan untuk terus membaca zaman dengan mata yang lebih jernih. Lima puluh tahun mengartun menjadi semacam dialog antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan.

Pada akhirnya, Non-O melihat berkarya sebagai bagian dari perjalanan hidup dan pengabdian. Kartun adalah caranya untuk berbagi kegelisahan, mengingatkan, menghibur, sekaligus mengajak manusia agar tidak terlalu serius menghadapi hidup—tetapi juga tidak terlalu santai menghadapi persoalan kehidupan.

Sebab, seperti semangat yang ingin ditawarkan pameran ini:

TERTAWA SEBENTAR, BERPIKIRNYA LAMA.

Dan kalau setelah tertawa kita menjadi sedikit lebih jujur, lebih peduli, lebih kritis, dan lebih manusiawi, mungkin di situlah kartun menemukan maknanya sebagai tamba getun—sebuah humor yang diam-diam menjadi obat agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Non-O tumbuh pada masa ketika kartun memiliki tempat penting dalam pers. Kartun bukan hanya hiburan, melainkan juga cara menyampaikan kritik sosial. Karya-karyanya pernah mengangkat persoalan korupsi, politik, pelayanan publik, hingga berbagai masalah kehidupan masyarakat.


Keteguhan Non-O di dunia kartun menghasilkan berbagai penghargaan. Ia meraih Karikatur Terbaik Lomba Lingkungan Hidup 1986, Juara II Karikatur Pendidikan Depdiknas 1987, dan Juara I Karikatur Terbaik Kejaksaan Jakarta 1989. Pada 1990 ia meraih Juara I Lomba Penulisan Humor Majalah Kartini. Tahun 1992, ia memperoleh Piala Adinegoro dari PWI Jaya. Pengakuan terhadap kiprahnya juga datang dari luar negeri. Pada Oktober 1994, Non-O dipercaya mewakili Indonesia dalam Pameran Kartun ASEAN V di Jepang, yang diselenggarakan dengan dukungan The Japan Foundation. 


Non-O tumbuh pada masa ketika kartun memiliki tempat penting dalam pers. Kartun bukan hanya hiburan, melainkan juga cara menyampaikan kritik sosial. Ia memahami bahwa kartun tidak perlu berteriak untuk menyampaikan kritik.


PEMBUKAAN PAMERAN:

📅  Senin, 21 September 2026

⏲️ Pukul 16.00 WIB


PAMERAN BERLANGSUNG:

📅  21 - 29 September 2026

⏲️ Pukul 10.00 - 21.00 WIB 


📍BALAI BUDAYA 

Jln Gereja Theresia No. 47

Menteng - Jakarta Pusat.




The power of colours

25-31 Agustus | 9am - Selesai

"The power of colours" adalah sebuah metafora tentang kesadaran yang harus dirawat dalam hidup bersama dalam keberagaman. Warna-warna yang dihadirkan oleh kelompok Sad Rasa tidak berhenti menjadi elemen rupa atau bahasa ungkap tetapi merupakan refleksi bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. 

Tentu perenungan mereka tidak berhenti pada kekaguman pada warna-warni tamansari yang merupakan anugerah keindahan... Karya-karya Sad Rasa tetaplah mewakili juga kegelisahan, paradoks, atau eraman dalam sapuan warna-warna yang membuat kita terjaga.


Pameran segitiga art community

11 September | 9am - Selesai

Segitiga Art Community adalah komunitas seni rupa dan pelukis di Indonesia yang didirikan sebagai wadah untuk melestarikan seni budaya, mendorong kreativitas perupa, serta membangun ruang tumbuh secara sosial, spiritual, dan kekeluargaan. 

Tujuan dan Peran Komunitas
  • Wadah Kreativitas: Menjadi tempat bagi para pelukis dan penggiat seni rupa untuk terus berkarya dan mengekspresikan ide.
  • Ruang Persaudaraan: Membangun hubungan yang erat secara sosial dan spiritual antar-seniman.
  • Pameran Tematik: Aktif mengadakan pameran seni rupa dengan berbagai tema sosial, seperti "Bahasa Rupa", "Wajah Koperasi Dalam Ekspresi", hingga isu lingkungan "Ruang Hijau".

koleksi